Empat Lawang UKN
Pemerintah
Kabupaten Empat Lawang melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD)
akhirnya melakukan langkah serius menindaklanjuti temuan dari Badan Pemeriksa
Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) Perwakilan Sumatera Selatan terkait
program penyediaan air minum berbasis masyarakat atau Pamsimas di sejumlah
desa. Monitoring tersebut dilakukan langsung di Kecamatan Pasemah Air Keruh,
Kabupaten Empat Lawang, Provinsi Sumatera Selatan.
Kegiatan
monitoring terhadap Kelompok Pengelola Sistem Penyediaan Air Minum dan Sanitasi
(KPSPAM) ini digelar pada 9 Februari 2026 di Aula Kantor Camat Pasemah Air
Keruh. Kegiatan ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari unsur pemerintah
kecamatan hingga pemerintah desa yang menjadi lokasi program Pamsimas.
Turut
hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Bidang Pemberdayaan DPMD Kabupaten Empat
Lawang, Andi, bersama tim monitoring. Selain itu, Susanto, Camat Pasemah Air
Keruh juga hadir bersama delapan kepala desa dari wilayah tersebut serta para
ketua KPSPAM dari masing-masing desa.
Monitoring
ini dilakukan sebagai tindak lanjut dari temuan pemeriksaan yang sebelumnya
disampaikan oleh BPK RI. Temuan tersebut berkaitan dengan keberadaan dan
kondisi program Pamsimas di beberapa desa yang ada di Kecamatan Pasemah Air
Keruh.
Kabid
Pemberdayaan DPMD Kabupaten Empat Lawang, Andi, dalam sambutannya menjelaskan
bahwa kegiatan monitoring ini merupakan bentuk tanggung jawab pemerintah daerah
dalam menindaklanjuti hasil audit lembaga negara tersebut. Menurutnya, langkah
ini penting dilakukan untuk memastikan bahwa fasilitas Pamsimas yang telah
dibangun benar-benar ada, berfungsi, serta memberikan manfaat bagi masyarakat
desa.
“Alhamdulillah
hari ini kami telah melaksanakan monitoring KPSPAM di Kecamatan Pasemah Air
Keruh. Kegiatan ini bertujuan untuk memastikan keberadaan program Pamsimas di
desa-desa yang ada di kecamatan ini,” ujar Andi saat menyampaikan laporan hasil
kegiatan.
Ia
menjelaskan bahwa dari hasil monitoring yang dilakukan tim di delapan desa
tersebut, pihaknya memperoleh gambaran cukup jelas mengenai kondisi terkini
fasilitas Pamsimas. Sebagian sistem penyediaan air minum tersebut masih
berfungsi dengan baik dan tetap dimanfaatkan oleh masyarakat.
Namun
di sisi lain, tim monitoring juga menemukan beberapa fasilitas yang mengalami
kerusakan. Salah satu penyebab utama kerusakan tersebut adalah bencana alam,
khususnya banjir yang merusak jaringan perpipaan.
“Kami
melihat ada Pamsimas yang masih beroperasi dan layak pakai. Tetapi ada juga
yang sudah rusak, terutama pada bagian perpipaan akibat banjir dan faktor
lainnya,” jelasnya.
Menurut
Andi, kondisi tersebut menjadi catatan penting bagi pemerintah daerah dan
pemerintah desa agar ke depan dapat dilakukan perbaikan maupun langkah
pemeliharaan yang lebih optimal. Dengan demikian, program yang telah dibangun
menggunakan dana pemerintah tersebut dapat terus dimanfaatkan oleh masyarakat.
Program
Pamsimas sendiri merupakan salah satu program nasional yang bertujuan
meningkatkan akses masyarakat pedesaan terhadap air minum layak dan sanitasi yang
aman. Melalui program ini, masyarakat desa diharapkan dapat memperoleh
fasilitas air bersih yang dikelola secara mandiri melalui kelompok pengelola
yang disebut KPSPAM.
Karena
itu, keberadaan KPSPAM menjadi kunci keberhasilan program ini. Kelompok tersebut
bertugas mengelola, merawat, serta memastikan sistem penyediaan air minum tetap
berjalan dengan baik dan dapat digunakan dalam jangka panjang.
Andi
menegaskan bahwa kegiatan monitoring ini harus dilakukan agar temuan dari BPK
RI tidak terus berulang setiap tahun. Ia menyebutkan bahwa temuan yang
disampaikan lembaga audit negara tersebut saat ini masih bersifat
administratif.
Artinya,
temuan tersebut lebih berkaitan dengan kelengkapan data, laporan, serta
kepastian keberadaan fasilitas yang sebelumnya telah dibangun melalui program
pemerintah.
“Kegiatan
ini harus kami laksanakan, sebab jika tidak dilakukan maka hal tersebut akan
terus muncul menjadi temuan BPK RI. Namun perlu kami sampaikan bahwa temuan ini
masih bersifat administratif,” tegasnya.
Dalam
kegiatan tersebut, para kepala desa dan ketua KPSPAM juga diberikan kesempatan
untuk menyampaikan kondisi nyata yang mereka hadapi di lapangan. Beberapa di
antaranya menjelaskan bahwa kerusakan jaringan pipa terjadi akibat faktor alam
seperti banjir yang kerap melanda wilayah Pasemah Air Keruh.
Selain
itu, keterbatasan anggaran pemeliharaan juga menjadi tantangan tersendiri bagi
pengelola di tingkat desa dalam menjaga keberlangsungan fasilitas Pamsimas.
Meski
demikian, pemerintah daerah berharap adanya koordinasi yang lebih kuat antara
pemerintah desa, kelompok pengelola, serta masyarakat dalam menjaga fasilitas
tersebut. Dengan kerja sama yang baik, program air bersih ini diharapkan dapat
terus memberikan manfaat bagi masyarakat pedesaan.
Camat
Pasemah Air Keruh, Susanto, dalam kesempatan yang sama juga mengapresiasi
langkah DPMD Kabupaten Empat Lawang yang turun langsung melakukan monitoring.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk mengevaluasi
kondisi fasilitas Pamsimas sekaligus mencari solusi bersama terhadap berbagai
kendala yang dihadapi.
Ia
berharap hasil monitoring tersebut dapat menjadi dasar bagi pemerintah daerah
untuk mengambil langkah lanjutan, baik dalam bentuk perbaikan infrastruktur
maupun peningkatan kapasitas pengelola di tingkat desa.
Dengan
adanya monitoring ini, diharapkan program Pamsimas di Kecamatan Pasemah Air
Keruh dapat terus diperbaiki dan dimaksimalkan. Pemerintah daerah juga
berkomitmen untuk terus memastikan bahwa setiap fasilitas yang telah dibangun
benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat desa di Kabupaten Empat
Lawang. (TIM)





























0 komentar:
Post a Comment